Apa Keuntungan Startup Fintech Ditengah Ketat Persaingan

Keuntungan Apa Yang Dicari Startup Fintech Ditengah Ketat Persaingan

startup fintech

Startup Fintech (Financial Technology) menjadi pusat perhatian dari perkembangan bisnis startup di Indonesia meskipun di tengah tengah persaingan yang sangat ketat. Beberapa latar belakang perusahaan baik dari startup, bank, telekomunikasi dan financial banyak melakukan ekspansi untuk masuk ke sektor Fintech (Financial Technology).

Meskipun ditengah persaingan ketat, dan perbankan belum memiliki instrumen pemabyaran yang mudah bagi semua segmen pengguna, maka dari startup fintech mulai tumbuh subur dan mereka memiliki inovasi serta permodalan dari investor yang cukup kuat untuk membantu mereka bangkit lebih cepat dan memiliki akselesari lebih tinggi dari pada industri perbankan.

1. Akuisi Data Kebiasaan Konsumen oleh Startup Fintech


Bagi startup fintech mendapatkan kebiasaan dan data dari konsumen adalah hal paling krusial dan wajib untuk dilakukan, dengan membaca data, perusaaah fintech tidak hanya bisa mengalokasikan bisnis di sektor transaksi saja, namun sektor bisnis yang lain akan lebih mduah untuk diakusisi dan di tracking / monitoring. (PelajariMemahami Design Thinking Untuk Menyelesaikan Masalah Startup Yang Kompleks

Startup fintech akan dengan udah melakukan ekspansi usaha dan mengantisipasi kebutuhan dan sales di semua sektor kebutuhan. Selain itu pengembangan data tersebut juga digunakan untuk pertumbuhan core bisnis mereka kedepan. Dengan optimalisasi data setiap konsumen dapat mendapatkan produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhannya.

Baca Juga :  Bersama Para Peneliti Dukung Undang Undang Riset dan Inovasi
2. Retensi dan Recurring Revenue adalah Core Startup Fintech

startup fintech

Startup Fintech akan memprioritaskan agar bisa mendapatkan retensi pembelian dari penggunanya. Maka dari itu sangat wajar bila mereka menggunakan promo promo atau menggabungkan dengan program loyalitas pelanggan dari merchant mereka agar retensi pembelian bisa terus menerus dilakukan oleh pengguna.

Retensi pengguna ini tentunya juga akan melibatkan data dan berbagai macam jenis transaksi yang bisa di analisa. Tidak hanya itu, retensi saja belum cukup karena retensi adalah fase awal agar user terus menggunakan dan terbius untuk terus menggunakan dan meninggalkan kebiasaan lama dengan menggunakan uang fisik atau transaksi tradisional. (PelajariKetika Tech Startup Tidak Mengadopsi Scrum Atau Agile Metodologi)

Tidak hanya untuk end user namun merchant pun akan merasa terus membutuhkan dari layanan startup fintech tersebut. Karena mereka merasa lebih di untungkan dan pelanggan juga mendapatkan kemudahan dan keuntungan yang sama. Dari ini merchat akan merasa lebih membutuhkan kehadiran startup fintech tersebut untuk kemajuan bisnis mereka.

Baca Juga :  Alasan Venture Capital Yang Mau Mendanai Sebuah Startup
3. Startup Fintech Incar Fee Base Transaksi

startup fintech

Ini lah yang di cari oleh pemain startup, yaitu mendapatkan fee transaksi dari besarnya potensi retensi pembelian dari user, semakin kecil fee transaksi maka merchant akan semakin di untungkan, dan user akan senantiasa membayar dengan ketulusan, namun dengan fee yang terbilang kecil maka keuntungan dari fintech startup akan sangat besar. Misal fee transaksi hanya IDR100 namun mereka mengelola transaksi sebesar 1.000.000 kali perhari maka revenue yang mereka bisa ambil setiap hari sebesar IDR 100.000.000/hari. (PelajariDisruptive Business Model Strategy Untuk Tech Startup)

Sehingga untuk mencapai angka yang tepat, startup fintech mengeluarkan banyak biaya untuk melakukan akuisisi pelanggan namun di kemudian hari mereka bisa memanen keuntungan sebesar besarnya setelah user banyak menggunakan layanan mereka.

Disclamer: Startup memiliki strategi bisnis model yang tidak mudah dibaca oleh kompetitor sehingga 3 pembahasan di atas belum tentu bisa menjawab materi pembahasan.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *