Jangan Cuma Euforia Industry 4.0! Ini PR Yang Harus Kita Kerjakan Bersama

Jangan Cuma Euforia Industry 4.0! Ini PR Yang Harus Kita Kerjakan Bersama

Segenap elemen bangsa di acara Indonesia Industrial Summit 2018 di JCC Senayan, Rabu (4/4). Seakan semua elemen bangsa terbius kedalam euforia ini. Namun dibalik euforia tersebut tersimpan banyak sekali pekerjaan rumah yang harus di selesaikan.

Mempersipakan generasi 5-10 thn lagi adalah kunci apakah negara ini akan melaju ke garda depan perubahan ekonomi dunia. Apa yang kamu baca saat ini, apa yang liat saat ini, apa yang kamu pelajari saat ini, adalah cerminan mu 5-10thn kedepan.

Jutaan teknokrat Indonesia bergerak, berkarya dan berinovasi. Disayangkan sekali bila teknokrat seperti kalian hanya diam, duduk, dan membual kata kata indah dan takut untuk menghadapi tantangan di masa depan. terdiam dalam langkah, berhenti dalam berfikir, enggan melangkah, dan masih tersipu malu di balik meja kerja zona nyaman mu.  Negara ini butuh pemikir, eksekutor, konseptor yang berdikari. Memiliki integritas tinggi bukan cuma seorang pemaki, negatif thinking, dan malas bertindak.

Sumber Daya Manusia Harus di siapkan. 

Perhatian penting dan hal ini bukan perkara mudah. Membangun wawasan bangsa, serta skill dari manusianya menjadi perhatian penting. Hal ini tidak bisa di mulai dari bangku kuliah saja, tentunya sedari dasar semua pendidikan harus di persiapkan. Tidak bisa lagi para pemuda kita di nyanyikan lagu lagu manja yang menina bobok-an kreatifitas dan inovasinya mereka. Negara memproteksi inovasinya, memproteksi industrinya, bersama sama membangun kualitas SDM nya.

Baca Juga :  Alasan Venture Capital Yang Mau Mendanai Sebuah Startup

Ketergantungan dengan inovasi luar mulai perlahan lahan di kurangi, perlahan di ganti dengan dalam negeri. Bantu industri lokal, beri kepercayaan, siapkan ekosistemnya.

Memang benar programmer bukan satu satu nya komoditas skill yang diperlukan dalam industry 4.0 namun kualitas pendidikan dan serta kesadaran dari calon pelaku inovasi perlu dibangkitkan. Banyak sekali lulusan Elektronika yang tak mampu merancang embedded system. Banyak sekali lulusan IT yang tak bisa coding. Ibarat, jadi Arsitektur tapi gak bisa gambar, jadi Akuntan tapi gak bisa berhitung. Apa yang akan terjadi, sulit sekali menemukan orang yang profesional di bidangnya. Dan industri akan kesulitan mendapatkan telent profesional untuk membangun industri yang sedang di garap.

Elektronika Menjadi Pilar Industry 4.0 Tapi Kita Tak Punya Komponen

Tentunya kita tidak bisa mengakatan bahwa software adalah elemen mutlak dari Industry 4.0. Peran industri dasar elektronika menjadi sangat penting. Sayang nya negara kita tidak mandiri akan bahan baku elektronika. Hingga saat ini komoditas ini menjadi rantai import penting.

Kesadaran akan kemandirian bangsa akan kemandirian terhadap industri bahan baku. Terlambat memang, namun upaya kongkrit dari pembuat kebijakan negara ini masih belum sadar akan hal ini. Apapun yang akan terjadi kita masih akan menjadi “market” bagi bangsa lain.  Apakah hal ini terdengar pesimis. Perhitungannya adalah seperti ini :

Baca Juga :  Bersama Para Peneliti Dukung Undang Undang Riset dan Inovasi

Suatu Negara 98% penduduknya makan nasi. Nasi terbuat dari beras. Dan di negara tersebut tidak bisa menghasilkan bulir bulir gabah, dan tidak bisa menanam padi. Bibit tidak ada, sawah tidak punya, menanam tidak bisa. Tapi setiap hari kita makan Nasi Uduk, Nasi Goreng, Nasi Kuning dan santapan serba nasi.

Apa yang akan terjadi dari ilustrasi diatas? Koki Rumah Makan, ibu ibu rumah tangga akan mengimport beras dari negera sebrang untuk makan sehari-hari, untuk usaha rumah makan setiap hari. Harga beras akan di setir oleh negera sebelah. Dan pastinya harga Nasi Uduk akan lebih murah dari negera sebelah…selamanya, karena negara sebelah bisa menanam sendiri beras nya. Si Koki di Rumah Makan, tak akan mampu bersaing secara harga ketika menjual Nasi Uduk di negerinya sendiri.

Meskipun terlambat, meskipun sulit, meskipun berat. Industri dasar elektronika sangat penting. Dan Indonesia punya bahan baku nya, tapi tak mampu membuat komponen nya.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Sulis sussilowati berkata:

    Cambuk yang sangat menyakitkan sebagai anak petani, yg sebenarnya kita dijajah oleh sodara probumi kita sendiri lahan kita hancur oleh yg dikatakan nutrisi, pembasmi hama, dan prodak2 yg justru menghancurkan ecosystem yang ada cacing pun tak bisa hidup dilahan kita sekarang, jika dulu 1tunas bisa tumbuh 100pohon sekarang 3tunas hanya mampu tumbuh 7-10pohon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *